Berisik

Ruang untuk pembelajar yang senang berkolaborasi dan menghargai kesetaraan dengan berkarya

Dikelola Oleh

© 2016. BERISIK.ID | DIKELOLA OLEH
POWERED BY
Creative Commons License

Remaja Indonesialah yang menjadi pemilik syah Negeri ini, yang akan menjaga, yang akan meneliti gejala kebumian, hayati, dan sosial budayanya

Titi Bachtiar

Mengenali diri dan potensi diri dengan seksama sehingga dapat berkarya sesuai dengan hati nurani. Semangat dan pantang menyerah, belajar menjadi diri sendiri.

Sri Wahyaningsih

Kalau punya karya jangan menunggu terlalu lama untuk mempublikasikannya. Kalau kita terus menunda mempublikasikan karya kita dengan alasan belum bagus, tidak ada karya yang sempurna. Solusinya kita publikasikan dulu, nanti kita buat lagi karya yang lebih baik

Christabel Anora

Menyalahkan orang lain selalu terlihat seperti opsi yang paling mudah, tapi nyatanya itu nggak pernah ada hasilnya.

ROBBRS

Kampung Halaman percaya bahwa remaja adalah anggota penting yang menjadi kunci suksesnya proses regenerasi pengetahuan di komunitas

Kampung Halaman

Sejauh Jauhnya Jalan Pasti Sampai 

Bekinya, Suku Anak Dalam 2010

Menjaga hutan memang sulit sekali, Orang pemerintah saja tak bisa,
Apalagi saya yang baru bisa baca, tulis dan hitung

Peniti Benang - Orang Rimba

Sumber foto dari: m.imdb.com

BUKA MATA DUNIA DENGAN LIKE STARS ON EARTH

Untuk kalian yang ingin menonton film tentang kritik terhadap sekolah formal dan kekerasan anak, film Like Stars On Earth/Taare Zameen Par (2007) mungkin menjadi salah satu film yang wajib kalian tonton dan diskusikan bersama teman-teman. Film yang disutradarai oleh Aamir Khan ini menceritakan seorang anak bernama Ishaan Nandkhishore Awasti yang mengalamai disleksia sehingga membuatnya tersingkir dari lingkungan dan mendapatkan ejekan, bahkan kekerasan mental dari guru, keluarga, sistem pendidikan, dan sekolah. Ishaan yang duduk di kelas 3 SD ternyata belum bisa membaca dan menulis, sehingga membuat ia tidak naik kelas selama dua tahun berturut-turut. Tindakan-tindakan diskriminasi yang tersistematis ini sebenarnya wujud dari pengerdilan makna pendidikan itu sendiri.

Dalam film tersebut, Aamir Khan dengan jeli menceritakan bahwa pendidikan di India, bahkan di semua belahan dunia, dengan sengaja menyingkirkan perasaan dan kepedulian antarsesama manusia. Pendidikan tidak lebih dari sekadar aturan, kedisiplinan, kepatuhan, dan penyeragaman. Pada bagian awal film ini diceritakan bahwa Ishaan merupakan anak yang riang gembira, aktif, pemberani, dan suka berpetualang. Sebelum berangkat sekolah, ia menjaring ikan di selokan dekat jalan raya, kemudian dimasukkan ke botol air minumnya. Setelah sampai di sekolah, ia tidak sadar bahwa sepatu yang ia pakai ternyata kotor karena terlalu asik menjaring ikan. Melihat sepatu Ishaan kotor sekali, Guru BK yang berada di depan gerbang sekolah langsung menghukumnya. Ia dipisahkan dari anak-anak yang berpakaian bersih dan dikelompokkan dengan anak-anak yang berpakaian kotor. Kekerasan simbol dan mental ini merupakan bentuk dari pengasingan/pengisolasian sistem pendidikan yang menggunakan metode otoriter guna melakukan penyeragaman individu-individu dan menolak setiap keunikan anak-anak.

Send this to friend