Berisik

Ruang untuk pembelajar yang senang berkolaborasi dan menghargai kesetaraan dengan berkarya

Dikelola Oleh

© 2016. BERISIK.ID | DIKELOLA OLEH
POWERED BY
Creative Commons License

JALAN SUNYI UNTUK BEREKSPRESI

Saya adalah mahasiswi tingkat dua di salah satu universitas negeri di Bandung. Sebagai mahasiswi jurusan Sejarah, tentu ada beberapa faktor yang menyebabkan saya intim bersama buku dan laptop, atau akrab dengan situs web bersejarah. Selain itu, menjadi bagian dari UKM kajian menjadikan bacaan saya dianggap nyeleneh jika dilihat dari kadar rata-rata bacaan remaja perempuan yang berasal dari kampung. Saya perempuan yang sedikit lebih dekat berteman dengan banyak lelaki. Sesekali saya terlibat diskusi dengan mereka, ditemani kopi dan buku di DPR atau ‘Di bawah Pohon Rindang’, yakni satu-satunya ruang terbuka hujau yang masih tersedia di Kampus. Di kelas, saya dianggap menyebalkan karena kerapkali bertanya kalau diskusi dengan pertanyaan yang mereka pikir menjatuhkan atau menyerang, atau agak teliti kalau bikin makalah kelompok. Saya bukan teman nongkrong yang menyenangkan bagi kaum hawa di kelas, karena menurut mereka saya ini nggak asik, nggak tahu makeup, nggak bisa dandan, nggak bisa diajak belanja, nggak tahu mode, nggak suka nonton drama korea, dan lain sebagainya. Seringkali saya merasa terasing saat berada di tengah mereka. Padahal sesungguhnya saya bukan orang yang sok pintar atau ingin terlihat pintar, justru saya mencoba berteman dengan buku karena mengetahui bahwasanya ada banyak hal yang saya tidak tahu, dan satu-satunya hal yang saya ketahui di dunia ini adalah ketidaktahuan. Semakin saya mengakrabi buku, semakin saya mengetahui tingkat ketidaktahuan diri saya, namun sayangnya tidak ada tempat untuk mencurahkan kegelisahan yang saya rasakan. Ketika saya bergabung dengan UKM kajian tersebut, saya merasa memiliki teman yang memiliki kegelisahan yang sama. Sekalipun cover mereka dianggap nyeleneh, itu bukan masalah bagi saya.

Ketika saya pulang ke kampung halaman, ada banyak hal yang buat saya merasa asing di tanah sendiri. Misal, sudah tidak ada teman perempuan seusia saya yang belum berkeluarga. Nyaris tidak ada teman untuk sekadar ngobrol santai atau sekadar curhat sebagaimana remaja seusia saya lakukan pada umumnya. Terlebih, lingkungan tempat saya tinggal memiliki kultur yang sedikit tertutup dan tidak terbuka dengan hal-hal baru, terutama dalam bentuk pemikiran. Bagi mereka, baca buku dan diskusi adalah aktivitas pangedulan yang membuang-buang waktu. Membaca Alquran tentu lebih utama dan berpahala ketimbang menghabiskan waktu dalam lembaran-lembaran yang dianggapnya hanya berisi doktrin-doktrin kontemporer tak berfaedah. Anggapan perempuan tak usah sekolah tinggi-tinggi dan jargon kembali ke sumur, dapur, kasur masih meninabobokan masyarakat kampung saya. Meskipun sudah ada beberapa pendahulu saya yang kuliah dan memiliki profesi sebagai guru dan bidan, itu pun hanya dari kalangan menengah ke atas, sementara saya yang terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja kerapkali dinyinyiri dengan berbagai pertanyaan yang cenderung judging. Akan tetapi, semua itu bukan masalah bagi saya, alih alih membuat saya minder, saya justru tertantang untuk semakin berani tampil beda dan membuktikannya.

Saya yakin kegiatan membaca bukan sekadar dialog sunyi dengan alfabet. Lebih dari itu, membaca adalah sebuah tangga menuju kebahagiaan dunia akhirat. Bukankah membaca adalah perintah pertama yang Allah serukan kepada Nabi Muhammad? Meskipun perintah untuk membaca tersebut tidak secara spesifik menyebut objek bacaan, tetapi menyebut motivasi dan tujuan membaca, yakni bismi rabbika yang memiliki arti “dengan atau demi karena Tuhanmu”.

Ketika banyak orang menganggap saya aneh, saya justru merasa bahagia mulai jatuh cinta dengan aktivitas membaca, karena saya bisa melakukan banyak hal dengan satu langkah mudah, membaca. Saya bisa mencicipi banyak rasa hanya dalam beberapa menit menyelami bacaan atau menjelajahi beberapa tempat dalam satu waktu. Saya tidak pernah merasa kesepian dan tidak takut dengan istilah itu, jika orang-orang menjauhi, bukan karena saya antisosial, justru saya ikut andil dalam salah satu komunitas di kampung saya yang bergerak di dunia literasi. Saya ikut menjadi relawan dan terjun langsung mengampanyekan membaca dalam gerakan kampung membaca. Komunitas Ngejah adalah tempat saya bisa ‘balas dendam’ akan kekecewaan saya yang dengan terpaksa harus jauh dengan hobi saya yang dikenalkan sejak kecil oleh ayah. Akan tetapi, setelah masuk Sekolah Dasar, hobi itu memudar karena kurikulum di sekolah yang bagi saya mematikan hobi saya itu. Tak ada perpustakaan di sekolah, hanya ada buku paket dan LKS yang bisa saya baca. Selain itu, akses ke toko buku sangatlah jauh, dan itu berlanjut hingga saya duduk di bangku SMK. Komunitas Ngejah yang menghadirkan roh itu kembali ke tubuh saya
dan sekarang saatnya balas dendam. Saya ingin mengajak anak-anak di kampung saya untuk mulai membuka jendelanya dan melihat bahwa dunia itu luas. Ada banyak hal yang belum kita ketahui di dunia ini, dan membaca adalah kuncinya.

Ramadan lalu, Tirto.id menerbitkan Kultum Quraish Shihab yang mengutip Syeikh ‘Abdul Halim Mahmud, mantan pemimpin tertinggi Al-Azhar Mesir, yang juga guru dari penulis, yang mengatakan “Membaca di sini adalah lambang dari segala apa yang dilakukan oleh manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Kalimat tersebut dalam pengertian dan jiwanya ingin menyatakan ‘bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu’”. [2]

Saya sangat suka dengan kata-kata itu, dan itu yang memotivasi saya agar istikamah dalam membaca dan tidak minder tampil beda di tengah gandrungnya remaja dengan gawai cerdas, namun nyaris lupa bahwa sesungguhnya dirinya jauh lebih cerdas dari gawainya asal mau mengenali dirinya. Satu dari sekian banyak cara untuk itu adalah dengan membaca. Bukankah peradaban besar diawali dengan membaca?

Meskipun saya sedikit kecewa dengan dunia kampus kini yang pada kenyataannya sangat jauh dari jargon agent of change (semoga hanya apriori saya), tapi saya bersama segelintir orang yang masih sudi berpegang pada trilogi Literasi-Diskusi-Aksi, di tengah arus globalisasi yang meninabobo, akan terus melawan kebodohan diri meskipun dianggap aneh. Bagi kami ini adalah sebuah kemewahan. Kami memilih jalan sunyi untuk berekspresi, karena di sini kami merasa memiliki jati diri, dan saya tidak takut meski harus teralienasi.

Saya jadi teringat kutipan Anwar Holid pada pengantar buku Dubliners terjemahan Indonesia, bahwa jika kita mau membaca banyak hal hari ini, merasakan ini-itu, mendengarkan musik atau puisi, mengkaji peristiwa, menyimpan amarah, menelaah kejadian, kata orang arif itu artinya kita ikut menyelamatkan dunia dan peradaban. Meski bisa jadi buku yang dibaca tidak mampu menghindarkan kita dari ancaman todongan atau kelaparan. Agama belum tentu menyelamatkan dunia dari kehancuran, filsafat masih sulit membuat kita menjadi baik atau puisi gagal membuat kita berhenti sejenak, tapi setidaknya kita berusaha untuk paham atau menerima peristiwa yang kita alami sebagaimana adanya, sebagaimana diberikan Tuhan begitu saja. Setidaknya itu membuat kita jadi lebih mau berdamai dengan kehidupan dan keseharian.[3]

Saya baru memulainya. Ruang sunyi ini pilihan saya. Berekspresi di ruang sunyi? Kenapa enggak?

 

Penulis
Oleh      : Novia Susanti Dewi
Alamat  : Kp. Ciwaru Ds. Sukawangi RT 01 RW 01 Kec. Singajaya, Kab. Garut
Posel     : vivinovia95@gmail.com

Penulis adalah bungsu dari tiga bersaudara yang lahir di perbatasan Kab. Garut bagian selatan dan Kab. Tasikmalaya bagian selatan. Memiliki nama lengkap Novia Susanti Dewi, namun teman kampus biasa memanggilnya Katan, berusia 21 tahun menjelang 22 tahun pada November ini. Merupakan mahasiswi tingkat dua prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Bandung, sempat vakum satu tahun setelah keluar dari sekolah menengah kejuruan swasta di Kab. Tasikmalaya karena terhalang restu orang tua untuk melanjutkan kuliah ke luar wilayah. Selama vakum, penulis menjadi relawan di Taman Baca a-i-u-e-o Komunitas Ngejah, kemudian bekerja di bagian internet marketing di salah satu perusahaan swasta di Bandung. Memiliki mimpi menjadi seorang sejarawan yang membangun kampung halaman.


[1] Judul disampaikan dalam seleksi Opini Remaja pada event Jalan Remaja 1208 Yayasan Kampung Halaman.
[2] <https://tirto.id/keajaiban-kata-iqra-dan-mengapa-kita-harus-membaca-cqGX> (01/06/2017-10.00 WIB)
[3] James Joyce, Dubliners (Yogyakarta: Jalasutra, 2004) hlm. 15

X

Send this to friend