Foto Asyam Ashari / Sastromoeni

Sastromoeni adalah salah satu kelompok band parodi yang ada di Yogyakarta. Sejak pertama kali terbentuk, Sastromoeni ini digawangi oleh remaja-remaja yang berkuliah di Fakultas Ilmu Budaya UGM, yang dulunya bernama Fakultas Sastra. Kelompok band ini terus mengalami regenerasi hingga sekarang dan sudah mencapai angkatan atau generasi ke-15 yang sering dituliskan dengan “Sasmoen #15”. Sastromoeni ini terdiri atas enam orang personil dengan posisi dua vokalis, dua gitaris, bassist, dan drummer.

Pada Jumat, 12 Mei 2017, mereka mengadakan acara bertajuk “Ujian Pendadaran”. Rupanya, acara itu merupakan panggung dan persembahan terakhir dari teman-teman Sasmoen #15 yang diibaratkan dengan ujian pendadaran karena sudah memasuki waktu regenerasi menuju Sasmoen #16. Acara ini cukup unik karena dikemas dengan narasi-narasi yang menyerupai teks ilmiah untuk ujian akhir, dan juga dilengkapi dengan dekorasi yang sederhana namun terkesan hangat. Pasca-acara, tim berisik.id mendapat kesempatan untuk melakukan bincang-bincang singkat dengan Kukuh Lutfi, salah satu vokalis Sastromoeni #15. Simak hasil wawancaranya di bawah ini.

Sastromoeni atau Sasmoen itu seperti apa dan sudah ada sejak kapan? Cerita sedikit, dong!

Sasmoen itu dari tahun 80-an dan bisa bertahan sampai sekarang karena punya formula, yaitu regenerasi. Jadi, formula regenerasi itu bisa menciptakan generasi-generasi baru dan jadi bisa bertahan sampai sekarang. Awalnya itu dari musik blues, rock, ya… gonta-ganti, kemudian sampai sekarang konsep medley-nya yang bertahan.  

Cara pergantiannya dari generasi ke generasi itu bagaimana?

Cara pergantiannya sebenarnya tergantung dari setiap generasi. Misalnya personilnya sudah lulus, atau sudah hampir lulus semua, nah, itu waktunya ganti. Jadi sekitar 2—3 tahun mengisi generasi itu, kemudian kalau sudah ada yang lulus atau mau lulus, maka sudah waktunya ganti. Simple­-nya kayak gitu…

Kalau Sasmoen generasi ke-15 ini kurang lebih “menjabat”-nya berapa lama?

Secara resmi 2,5 tahun, dihitung dari masuknya Kevin, vokal kedua, sebagai personil terbaru atau yang bergabung paling terakhir.

 Lalu, dulu kenapa nih, kok Kukuh bisa jadi anggota Sasmoen?

Dulu, aku dari SMP sudah punya band seperti ini, yang medley begini. Ketika di sini aku satu kali melihat ada band yang seperti itu, lalu aku tertarik. Tapi, saat itu awalnya aku memang diajak oleh personil Sasmoen #14, yaitu Mas Mada dan Mas Naufal. Lalu ya, aku mau bergabung.

 Setelah bergabung dengan Sasmoen, apa saja sih, yang sudah Kukuh dan Sasmoen lakukan serta hasilkan? Kata lainnya mungkin… kontribusi teman-teman Sasmoen, khususnya pada kegiatan atau hal-hal di bidang seni, khususnya lagi seni musik?

Kalau di bidang seni musik, karena basis kami adalah komunitas, kami siap menghibur siapa pun, di manapun, dan mungkin juga kapanpun. Karena basisnya komunitas, jadi kami memperluas persaudaraan atau pasaduluran. Kami sudah pentas di berbagai kampus di Jogja. Hampir semua kampus pernah mengundang Sastromoeni. Itulah yang menjadi hal penting atau pencapaian kami. Biasanya dalam satu minggu bisa dua sampai tiga kali, bahkan satu malam bisa dua kali pentas. Selain itu, kami juga bisa menyatukan berbagai elemen di kampus FIB, bahkan juga di UGM. Dulu pernah ada kegiatan aksi, Sastromoeni juga salah satu yang berkontribusi besar di dalamnya, karena itu wujud dari kepedulian kami terhadap ketimpangan sosial yang ada saat itu, dan kami melakukannya dengan kritik sosial. Seperti itu.

 Ada pengalaman paling menarik yang bisa diceritakan selama “menjabat” menjadi personil Sasmoen generasi ke-15 ini?

Di Sasmoen itu, kami harus melepaskan “urat malu” kami. Di situlah kami menghabiskan “harga diri” kami atau bahkan menjualnya, dan kami melupakan diri kami untuk menjadi diri yang lain. Akan tetapi, dengan cara itu, kami dapat menemukan diri kami sendiri yang sebenarnya. Dengan berubah menjadi diri yang lain, maka kami akan mencari diri kami sendiri yang sebenarnya. Di situlah kami mengalami berbagai polemik yang akhirnya mendewasakan kami, mengajari kami banyak hal tentang kehidupan dan juga persahabatan.

Penampilan Sastromoeni pada Ujian Pendadaran Ala Sastromoeni #15 / Foto Faradila Nurbaiti

 Lalu, kembali ke acara “Ujian Pendadaran” ini. Acara ini diadakan untuk apa, sih? Apakah sebelumnya juga selalu rutin diadakan, atau jangan-jangan ini baru pertama kali?

Ini baru pertama kali. Sebenarnya, ini adalah konsep yang dibentuk sejak lama. Sebenarnya acara ini ingin kami laksanakan Desember 2016 lalu. Akan tetapi, karena ketidakefektifan dan kepanitiaan yang terbentuk tidak berjalan, kami pun mengambil alih, sehingga baru dapat kami laksanakan saat ini. Jadi agak molor ya, sekitar lima bulan, hehehe… Jadi ini merupakan bentuk pamungkas. Ini adalah pementasan terakhir Sasmoen #15, dan mungkin bisa dilanjutkan tradisi seperti ini. Ini bisa dijadikan sebagai awal. Semoga bisa dilanjutkan dan bisa menjadi acara yang unik, juga sebagai penanda pergantian generasi Sastromoeni.

Nah, karena sudah pamungkas nih, ada harapan apa untuk para penerus Sasmoen berikutnya?

Pertama, Sastromoeni harus bisa merangkul semua orang dan bisa menunjukkan penampilan yang menghibur, karena bercanda itu sulit didapatkan ketika kita sedang beramai-ramai. Maksudnya, sekarang ini kita sudah bisa menghibur diri dengan adanya dunia internet, lalu bisa tertawa-tawa sendiri setelah membaca sesuatu dari internet, tetapi hal itu membuat kita menjadi jauh dengan kontak langsung dalam masyarakat. Sastromoeni harus bisa mempertahankan untuk menghibur masyarakat di manapun tempatnya dan bisa menyesuaikan diri. Itulah salah satu ciri khas Sastromoeni.

Kedua, Sastromoeni harus bisa menjadi ikon FIB yang kritis dan juga bisa mewakili kemahasiswaan. Nama mahasiswa itu harus dapat tetap dijalankan, karena bagaimanapun juga Sastromoeni membawa atau berdiri atas nama mahasiswa. Jadi, tampil di manapun, Sasmoen harus bisa membawa ide-ide segar, ide-ide kritik tentang masalah apa pun. Tetap kritis kepada apa pun.

Lalu, ada harapan seperti apa untuk perkembangan dunia permusikan, khususnya bagi para remaja yang menggeluti musik?

Saya menikmati musik. Saat ini menurut saya seleranya agak kebarat-baratan. Lagu-lagu banyak sekali yang berunsur barat, ya walaupun juga tidak kalah banyak yang berunsur ke-Indonesiaan. Harapan saya, musik Indonesia khususnya, bisa semakin berkembang. Tidak hanya jenis musik pop, tetapi juga jenis musik lainnya. Harapannya juga musik bisa dijadikan sebagai alat pemersatu. Untuk remaja, musik bisa dijadikan salah satu sarana untuk menyalurkan bakat dan hasrat-hasrat yang dimiliki. Misalnya hasrat kekerasan, bisa saja dilampiaskan, digantikan, atau bahkan disalurkan dengan bermusik, karena bermusik bisa mengasah akal budi dan kepekaan kita. Dengan nada, kita bisa bersatu dengan banyak orang, kita menyanyi, semua orang ikut menyanyi, dan di situlah terjadi sebuah kontak antara manusia satu dengan yang lainnya. Di situ jugalah hakikat manusia, yaitu berhubungan satu sama lain. Karena remaja merupakan usia yang produktif, hubungan yang terjadi di dalam setiap aktivitasnya bisa menjadi lebih bermakna bagi kehidupan.

 Foto-foto tentang Sastromoeni dapat dilihat pada akun Instagram @sastromoeni.

Lagu-lagu Sastromoeni dapat didengarkan di:

 

Faradila Nurbaiti
Berisik.id