Dok. Ismi Rinjani

Rasa haus para penggemar musik di Jogjakarta seakan tak pernah menemui kata surut. Di Minggu malam yang cerah, Jogja Expo Center (JEC) dipadati oleh penonton dari seluruh penjuru kota untuk mengentaskan dahaganya akan musik-musik berkualitas. Hari Minggu adalah hari terakhir dari rangkaian acara Kickfest XI yang diadakan selama tiga hari berturut-turut dan tentunya tak pernah ada kata sepi.

Anak-anak muda Jogjakarta dan sekitarnya menyemut di depan panggung. Kaki-kaki mereka seakan ditempel lem dan enggan beranjak hingga acara usai. Antusiasme pun terpancar dari wajah-wajah mereka yang meski berlumur keringat, tapi tetap penuh hasrat. Daya tarik kuat itu tak lain datang dari band indie asal Jakarta, Fourtwnty, yang kini tengah naik daun dan digilai banyak penggemarnya yang kebanyakan adalah remaja. Fourtwnty digawangi oleh dua punggawanya yaitu Ari Lesmana (vokal) dan Nuwi (gitar), dengan additional players Primanda Ridho (octapad), Ryan Maulana (bass), dan Andika Dwi Putra Armand (gitar). Penampilan mereka malam itu berhasil membius keseluruhan penonton yang memenuhi gedung. Hampir semuanya sing along saat Fourtwnty menyanyikan lagu-lagu andalannya: Aku Tenang, Hitam Putih, sampai lagu Jogjakarta milik Kla Project.

Lagu mereka yang berjudul Zona Nyaman yang menjadi salah satu soundtrack di film Filosofi Kopi 2 sukses di pasaran dan makin mengharumkan nama mereka di kancah musik indie Nusantara. Tim berisik.id pun berkesempatan mewawancarai Fourtwnty setelah mereka selesai menutup Kickfest XI dengan penampilan ciamiknya.

Ikuti yuk, perbincangan dengan Fourtwnty!

Halo Kak, kami dari berisik.id, mau wawancara sebentar, nih.

Halooo, oh iya, kami tau tuh, berisik.id. Kami tau dari Twitter. Nuwi pernah nge-retweet, tuh!

Di kantor lagu-lagunya Fourtwnty diputar terus Kak, hampir tiap pagi kayaknya.

Waa, terima kasih banyak, ya!

Nah, gimana kabar band-nya sekarang, Kak? Lagi sibuk apa?

Lagi sibuk keliling dulu nih, cari rezeki. Tapi akhirnya kita libur dulu besok dua hari. Aku (Ari) lagi ngejar sama Nuwi buat recording. Tapi Nuwi juga lagi nungguin lahiran anak pertama, nih.

Wah selamat ya, Kak Nuwi! Oh ya, kalian lagi nyiapin album ke berapa?

Album kedua. Tadinya mau bikin mini album, tapi materinya ternyata banyak. Kami harusnya sih, ngeluarin bulan Oktober. Tapi untuk rilis secara fisik belum tau kapan. Cuma yang jelas nanti di Synchronize Festival kami bakal bawain lagu barunya Fourtwnty. Jadi yang mau dengerin materi album barunya Fourtwnty, datang aja ke Synchronize Festival 2017 tanggal 7 Oktober di Jakarta, ya! Ini sebagai perkenalan aja sih, teaser untuk album kedua.

Inspirasi kalian dalam bermusik dan berkarya tuh, dari mana sih, Kak?

Dari mantannya, mantannya, mantannya (Ari sambil menunjuk personel yang lain). Hahaha. Nggak, nggak, nggak. Kami sih, inspirasinya dari jamming, dari dunia sekitar, keresahan-keresahan yang kami punya. Tapi di album kedua ini sama kayak album sebelumnya, gak ada yang dibikin-bikin, semuanya kisah nyata. Aku sama anak-anak tuh, doyannya yang real, gak yang dibuat-buat kayak “ah mau dibikin tentang ini, tentang itu”, itu tuh, enggak. Tapi emang lebih ke yang dekat dengan keseharian.

Dok. Ismi Rinjani

Selain cinta, toleransi, dan kontemplasi terhadap alam, tema apalagi yang diangkat di lagu-lagu kalian?

Teroris, taubat (lepas dari kehidupan gelap), masa tua, masa depan, dan keluar dari zona nyaman.

Dalam bermusik atau pas lagi tur kayak gini, kalian pernah ngerasa jenuh gak, sih?

Jenuh sih engga, cuma homesick. Kangen rumah, kalo saya sih, kangen istri (Nuwi), dan kangen mbak Mi, yang jaga rumah (Ryan).

Bisa kasih tips gak, buat para remaja yang masih berproses dan menentukan jati dirinya dalam berkarya?

Jujur aja dalam berkarya, berusaha, berdoa, jadi diri sendiri, jauhi narkoba. Dan, oh ya, berani kelaparan! Berani kelaparan itu pasti kan, dalam usaha itu jatuh bangun dulu, gak mungkin langsung di atas, sukses tuh gak mungkin instan. Satu lagi, sayang orang tua! Karena restu orang tua yang bikin kita sampai di titik ini.

Mantap, Kak! Oh ya, waktu kalian remaja, ada tantangan apa aja sih, dalam bermusik?

Restu dari orang tua, sih. Soalnya orang tua kan lebih mengutamakan akademis. Plus rata-rata kami ini anak rantau semua. Andi dari Lampung, Prim sama aku dari Pekanbaru.  Kalo Ryan dan Nuwi emang stay di Jakarta. Kami pun rata-rata anak pertama semua. Bebannya lebih berat. Jadi usahanya lebih pol-polan, totalitas, kalo nyebur ya, sekalian nyebur.

Kak, kami pengin tau nih, gimana sih, sikap/pesan Fourtwnty kepada remaja yang tinggal di wilayah rural, yang tentunya secara akses dan referensi berbeda dengan remaja yang tinggal di wilayah urban?

Sekarang sih, sudah lumayan mudah, ya. Akses ke internet juga makin gampang, gak kaya zaman kami remaja dulu. Apa-apa mesti ngulik dan cari sendiri. Tapi Fourtwnty malah sekarang lebih banyak manggung di kota-kota kecil. Kota-kota kecil itu gak bisa dipandang sebelah mata gitu, lho. Euforia di sana tuh, lebih gila-gilaan dibandingin kota-kota besar. Pesan kami buat remaja yang tinggal di wilayah rural sih, tetep ngulik, jangan berkecil hati, gak usah minder, dan eksplor teruus! Kalian keren kok, lebih keren dari yang di kota-kota besar malah! Gak usah ngikutin kehidupan urban, jadi diri sendiri aja!

Yang terakhir nih, Kak, apa pesan dan harapan untuk remaja di seluruh Indonesia?

Jauhi narkoba, lebih kreatif, tetap jujur dan sederhana, jangan korupsi. Tetap jadi yang beda, jangan mau jadi yang sama.

 

Oleh: Ismi Rinjani
Editor: Faradila Nurbaiti