Dok. Abdullah Sidoel

Malam Minggu biasanya anak muda menyibukkan diri untuk bertemu pasangan dan berpacar-pacaran. Namun, Malam Minggu di Jogja Expo Center (JEC) terasa berbeda dengan kedatangan Koil yang manggung di Simpati KickFest 11. Tak bisa dimungkiri bahwa Koil menjadi band rock yang populer bagi penikmat musik tanah air. Baik remaja, anak muda, maupun dewasa pastinya tak asing lagi dengan lagu-lagu Koil seperti Kenyataan dalam Dunia Fantasi dan Aku Lupa Aku Luka.

Band yang digawangi oleh Otong (Vokal), Doni (Gitar), Leon (Drum), dan Adam (Bass) itu melakukan atraksi panggung yang memukau, serta dengan hentakan distorsi gitar yang tebal yang membuat penonton bersemangat dan berteriak. Dentuman suara double pedal dan bass membuat seisi gedung JEC bergetar. Bisa dibilang Koil selalu punya hal baru untuk mengonsep pertunjukan. Beberapa kali layar panggung digunakan sebagai media penyampaian pesan dan makna lagu. Ada foto Setya Novanto yang dipasang bergantian dengan foto artis seperti Brad Pitt, Tora Sudiro, David Beckham, dan Jerinx yang membuat kami takjub. Apakah itu bentuk kritik sosial atau hanya untuk bercandaan saja? Hanya Koil yang tahu.

Musik bisa dibilang menjadi jembatan bagi semua orang untuk berinteraksi. Itulah yang kami rasakan saat menonton langsung performa Koil di panggung. Beberapa kali Kak Otong, sang Vokalis, menyapa penonton dan bercanda melalui celotehannya yang lucu.

“Kok kalian malah nonton Koil di sini? Kenapa enggak nonton Dream Theater aja? Pasti pada gak punya duit, ya. Makanya kalian pada nonton Koil di sini, hahaha,” kata Kak Otong yang memegang gitar sambil berceloteh.

Sontak penonton tertawa lepas dan hanya meringas-meringis. Kami pun tak kuat menahan tawa mendengar kata-kata yang jujur tersebut. Dari beberapa band yang kami liput, mungkin Koil merupakan band yang paling santai dengan durasi waktu. Jarang sekali ada band yang berinteraksi dengan penonton dan secara intens berbicara lebih dari 5 menit. Itulah bedanya Koil dengan band lainnya.

“Kalian udah ada yang beli komik Koil, belum? Kalau belum, mau enggak dikasih komik?” tanya Kak Otong lagi kepada penonton.

Penonton di JEC pun menjawab bersamaan, “Mau!!!”

“Gratisan mulu. Kalau pengin komik Koil, siapa yang di sini pakai kaus Koil? Nanti kita kasih 5 komik untuk 5 orang yang pakai kaus Koil.”

Ada lima orang penonton yang memakai kaos Koil dan langsung diberi komik satu per satu oleh kru panggung. Kak Otong kemudian kembali memainkan lagu-lagu cadas yang membuat penonton kegirangan dan bernyanyi bersama.

Di akhir pertunjukan, aksi ritual banting gitar yang dilakukan oleh Kak Otong membuat pertunjukan berakhir klimaks dan mengesankan. Penonton tak henti-hentinya bertepuk tangan dan melambaikan tangan kepada Koil.

Dari segi musikalitas dan karya, Koil merupakan band yang konsisten dengan lagu-lagu bertema sosial dan politik. Setelah era Iwan Fals, jarang ada band yang sukses mengusung tema seperti ini. Namun, Koil bisa dibilang pengecualian dari hal itu. Album Koil selalu sukses di pasaran, selalu mengadakan tour keliling kota, dan tampil di event-event besar. Hal itu membuktikan bahwa lagu-lagu bertema sosial dan politik masih bisa diterima oleh masyarakat umum, apalagi dengan keadaan sosial dan politik di Indonesia yang masih dalam transisi otoritarianisme ke demokrasi masyarakat sipil. Tentunya, lagu-lagu Koil masih relevan untuk pendengar di Indonesia. Bukan hanya orang tua generasi reformasi yang menyukai lagu-lagu Koil, melainkan remaja dan anak muda generasi pascareformasi juga banyak yang gandrung dengan Koil.

Lebih dari 20 tahun, Koil hidup di jagat musik tanah air. Mereka mengalami perubahan zaman yang drastis, yakni mulai dari era rilisan fisik sampai era digital. Namun, Koil masih tetap eksis dan tampil di mana-mana. Ada pepatah yang mengatakan, kalau seseorang tak bisa beradaptasi, ia akan hilang dari sejarah. Adapatasi menjadi kunci bagi setiap musisi untuk berjalan mengarungi persaingan ketat di industri musik. Ada banyak band rock yang bermunculan, namun nama Koil tak bisa tergantikan begitu saja. Ciri khas Koil terletak pada lirik lagu dan muatan pesan yang dikandungnya. Seperti dalam lirik lagu Kenyataan dalam Dunia Fantasi pada bagian setelah melodi.

“Aku tak butuh pengertianmu, aku bukan bagian dari sejarah yang kau tulis kau bingkiskan untuk anak dan cucumu. Aku tak butuh penjelasanmu aku bukan bagian dari kebanggaan yang membuat kita tak berpenghasilan.”

Tentunya lirik ini mengandung banyak tafsir dan makna di dalamnya. Entah itu kemuakan, keacuhan, ataupun kritikan kepada hal-hal yang berbau politik. Supaya nggak terlalu subjektif dan penuh asumsi, yuk kita simak wawancara tim Berisik.id bersama Kak Otong dan Kak Adam dari Band Koil yang bersedia di-kepo-in seputar musik, remaja, karya, dan media. 

Dok. Abdullah Sidoel

Gimana rasanya Kak Otong habis manggung di Simpati Kickfest 11 di Jogja?

Selalu menyenangkan main di Jogja, semua acara di Jogja. Jogja kota yang sangat menyenangkan. Kita paling seneng diundang di sini, banyak makanan dan banyak yang bisa dilihat di sini. Aku paling seneng di Jogja ada tempat museum motor, jadi tiap ke Jogja selalu menyempatkan waktu untuk main ke sana.

Kalau Kak Adam sendiri gimana habis manggung di Simpati Kickfest 11 di Jogja?

Keringatan yang pasti dan panas. Hehe. Kalau Jogja punya kenangan tersendiri bagi Koil. Dari dulu banyak kenangan di sini, selain Bandung yang sering kita singgahi, Jogja merupakan kota yang lumayan sering kita singgahi dan selalu menyenangkan main di Jogja. Kami juga punya banyak teman di sini.

Kalau kabar Koil sendiri kesibukannya sekarang apa, nih? Bikin Album atau single gitu nggak, Kak?

Kita lagi bikin album baru. Kita sedang buat album baru dan video game. Semoga album barunya bisa beres Desember, ya. Semoga bisa rilis secepatnya, tapi kita enggak tahu, belum tahu jadwal rilisnya. Karena zaman sekarang kan, bingung, mau merilis album kita harus mencari efektifitas jualannya. Karena zaman sekarang kan, sebagaian besar band merilis album itu tidak dibeli fisiknya segala macam. Karena kita harus mencari caranya.

Bukankah Koil sudah punya pasar tersendiri dan punya fans yang banyak di akar rumput, Kak?

Pasarnya udah ada. Untuk Band kelasnya Koil, pasar kita cukup banyak. Cuma, anak sekarang kan, gak ada yang punya VCD player dan kaset player. Jadi, kita harus mikirin caranya gimana orang bisa beli fisik dan menikmati karya kita dengan harga yang pas, dan mereka tertarik untuk membeli. Karena zaman sekarang kan, musik itu udah gak dibeli. Udah gak ada yang beli musik. Aku masih memikirkan yang paling efektif itu kayak gimana.

Kalau tadi dilihat kan ada Foto Setya Novanto di layar panggung waktu Koil manggung, boleh diceritain gimana itu konsepnya atau maksudnya, Kak?

Cuma kalau kita itu bukan orang yang mengkritik, kita gak pernah nonton TV jadi kita gak tahu ini siapa, dia siapa. Gak mencari tahu juga, cuma karena kita main Twitter. Di Twitter kan, rame banget tuh, aku juga gak tahu, kalau ada foto kelihatannya lucu, nih. Nah, kebetulan yang kita ambil kebanyakan foto yang muncul di trending topic-nya Twitter. Menurut kita, wah, ini keren nih, pas kita googling fotonya, Pak Setya Novanto pernah kumisan. Idenya kemudian adalah orang ini kok pernah kumisan ya, haha. Jadi, idenya orang ini pernah kumisan tapi kok gak ada orang-orang yang nge-tweet atau menonjolkan kalau Pak Setya Novanto pernah kumisan. Jadi aku carilah orang lain yang kumisan kayak Tora Sudiro juga kumisan, Brad Pitt juga kumisan, dan Jerinx juga kumisan. Kita padu-padukan gambar itu jadi satu. Jadi, Koil itu tidak berdasarkan kritik-kritik yang berat seperti itu.

Tapi bukankah materi lagu dan lirik Koil itu berat juga, Kak?

Iya, kalau materi lagu dan lirik memang berat. Tapi itu tergantung orang yang mendengarkannya, menyukainya, dan mengartikannya seperti apa. Kalau misalnya masuk ke dalam jiwanya bagus, ya udah, kalau enggak, ya sudah. Kita enggak bisa menyesuaikan semua orang untuk suka lagu kita. Kreativitas kita di musik seperti itu, kreativitas di visual seperti gimana. Karena tampang-tampang kita sendiri kan udah enggak nyambung gitu ya, hahaha. Jadi kita gak menginginkan anak muda yang seneng Koil untuk ayo protes atau gimana. Lebih baik udah deh, hidup lebih damai dan terus cari nafkah sebisa mungkin.

Selama ini kan, Koil udah 20 tahun lebih di dunia musik Indonesia dan banyak anak muda yang suka dengan Koil. Perjalanan Koil kan, panjang banget nih, Kak. Apa sih, resepnya bisa berkarya terus? Ceritain dong, Kak, biar remaja-remaja bisa ngambil ilmunya dari Koil!

Apa ya, resepnya? Koil juga bukan band yang laku, bukan band apa ya … Kita pernah ada masanya menjadi band yang nge-hits, kita pernah jatuh, kita pernah ada banyak masalah, dan kita pernah duka dalam waktu 20 tahun sekian. Cuma intinya adalah kita berempat selalu bersama, kita cari uang bersama, kita makan bersama, kalau kebersamaan ini bisa berlanjut kayaknya kalian bisa bikin apa pun. Mungkin tidak menghasilkan, tapi kita percaya kebersamaan tadi itu akan membuahkan hoki dan keberuntungan. Itu aja sih, soalnya kita juga gak tahu resepnya, kebersamaanlah kira-kira.

Berisik.id ini kan, fokusnya dengan remaja dan media, Kak. Kira-kira pesan apa yang ingin disampaikan Kak Otong untuk remaja Indonesia?

Mungkin pesan-pesan kepada pemirsa Berisik.id ini, kalau bisa kita membina persaudaraan dan pertemanan dengan teman dekat dan keluarga segala macam. Kita main musik, kita berkarya yang lain, ngapain, bisnis, atau gimana. Selama kita bisa membina hal tersebut sebagai kebersamaan dan saling menyayangi teman-teman kita ini, semoga niscaya banyak keberuntungan.

Kalau Kak Adam, apa pesannya untuk remaja Indonesia?

Kalau dari aku sih, kalau memang mau main musik atau berkarya yang lain, ya konsisten ajalah. Mungkin aku lebih lama main musik ketimbang Kak Otong. Ya, memang passion-nya di musik dan semua kerjaanku juga di musik. Yang penting konsistensi, udah itu aja.

Dok. Abdullah Sidoel

Setelah wawancara selesai, kami pun berpamitan dan bersalaman dengan para personel Koil. Kami lihat banyak fans Koil yang masih menunggu di JEC untuk berfoto bersama idolanya, padahal hari sudah larut malam. Kami melihat para personil Koil sangat dekat dengan para fans, bahkan mereka sempat berbincang-bincang lama. Hari itu merupakan pertemuan yang mengesankan bareng Koil dan tentunya kita bisa dapat banyak ilmu dari mereka. Kegigihan dan konsistensi Koil dalam berkarya adalah yang patut kita tiru sebagai generasi remaja di Indonesia. Ambil apinya, jangan abunya. Hidup remaja Indonesia!

Oleh: Danang Pamungkas
Editor: Faradila Totoy